iri December 27, 2009
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
dan bahagialah mereka yang mati muda…………..
Tuhan, aku ingin jadi anak laki-laki (1) December 23, 2009
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
Hal menyenangkan menjadi makhluk bernama manusia adalah memiliki kesempatan untuk menangkap berbagai pengalaman visual dan mengelolanya dalam alam rasa maupun pikiran. membaca buku dan menonton film adalah contoh wahananya. begitu luas ide dan kreatifitas manusia hingga tak akan pernah cukup berjuta buku dan film untuk mengekspresikannya. hari inipun, aku telah jatuh sebagai korban yang tenggelam dalam lautan ide anak manusia berwujud FILM.
Film yang kumaksud ini sebenarnya sebuah sequel, atau lanjutan dari cerita yang ada di sebuah film sebelumnya. ini adalah wujud lain dari novel karya anak negeri yang diadaptasi dalam produksi film. seperti kebanyakan, film dengan jenis ini selalu punya sensasi bagi yang pernah membaca ataupun yang belum pernah sama sekali. aku termasuk golongan pertama, namun tidak seniat kawan-kawan yang lain yang menamatkan cerita ini hingga judul novel ke-empat. ya, cerita ini adalah cerita dalam karya novel tetralogi. penuh petualangan alam pikiran.
aku hanya pernah membaca novel pertama. itupun tanpa kesan yang teramat mendalam, seperti layaknya sekian banyak orang yang pernah menyatakan pendapatnya setelah membaca buku itu. menurutku, banyak pengulangan deskripsi yang tidak perlu. dan beberapa bagian terkesan bertele-tele. yah, sisi egoku menilai seperti itu. memang jika dilihat secara keseluruhan, ini adalah cerita yang wajar dibukukan. berasal dari kisah nyata sang penulis dalam kehidupan kanak-kanak hingga dewasa yang penuh kisah menarik, senang maupun sedih. dan masih beberapa penulis yang menghasilkan karya-karya penuh kejujuran seperti itu.
sastra Indonesia sedang berada dalam era baru. bahasa yang dituturkan bukan lagi bergaya roman-roman ala siti nurbaya yang penuh dengan konotasi. jujur dan apa adanya, justru saat ini gaya penulisan inilah yang lebih menarik hati pembaca, setidaknya sebagian besar. terbukti dengan penjualan novel tetralogi tersebut yang mencapai angka-angka fantastis, bahkan dalam sejarah sastra komersial Indonesia. pembaca tidak terlalu ingin terbuai dalam alunan kata-kata konotatif dan bernada melankolis ataupun manja. karena itulah novel seperti ini yang sekarang banyak dicari.
jujur saja, alam sadar dan bawah sadar ku tidak terlalu setuju dengan pendapat pasar. aku pun kehilangan selera untuk membaca novel kedua,ketiga, dan keempat. dan lewatlah masa-masa itu, hingga waktunya untuk pemutaran film kedua dari judul kedua dalam tetralogi ini. mengembalikan selera untuk mencoba menikmati sesuatu yang kurang mengenakkan di awal, ternyata tidak mudah. akupun tidak begitu semangat mengejar antrian tiket yang berjubel selama berminggu-minggu ini demi menonton sequel itu diputar di bioskop. padahal gaungnya sudah mulai terasa sejak beberapa hari sebelum pemutaran perdana di kota ini. dan semakin besar sejak dilemparkan ke hadapan penonton.
makanya hari ini, ketika ada teman yang mengajak, aku merasa tidak begitu perlu untuk mengikutkan diri dan kehilangan beberapa puluh ribu untuk film itu. mengingat pengalamanku di film maupun novel pertama kurang mampu membekaskan “sesuatu” di benakku. tapi karena tidak ada alasan lain untuk menolak (kesekian kalinya), kepasrahan akhirnya membawaku duduk dalam salah satu bangku di studio 1. (aku masih tetap merasa beruntung tidak kebagian tugas mengantri). rol diputar, layar menyala, semua mata sedang tertuju ke depan.
pelan-pelan, memoriku kembali memutar ulang untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dan penggalan cerita yang ada hubungannya dengan sequel ini.tidak begitu sulit untuk menangkap alur kisah kedua ini. anak-anak itu memang hebat, akuku dalam hati. untaian kisah mereka pun terpaparkan dengan apik dalam setiap jalinan frame di layar. karakter orang-orang ini semakin kuat di mataku. mereka sangat bangga dengan peran mereka hingga sulit untuk mengatakan jika mereka tidak maksimal. kembali kehebatan sang aktor/aktris serta sutradara dan mereka yang berada di belakang layar, harus aku akui. rantai cerita tersambung satu sama lain dengan begitu natural. kejujuran adalah fondasi cerita ini,seperti yang aku bilang sebelumnya.
sedikit banyak, novel memberi nafas yang dalam bagi film ini. namanya saja cerita adaptasi, ya pasti film ini dibuat berdasarkan cerita dalam novel. betul sekali, tidak ada yang salah dalam pernyataan itu. namun, pembuat novel dan film adalah pribadi yang berbeda. adaptasi bukanlah refleksi, bukan memindahkan langsung setiap sisi dan sudut sebuah novel ke dalam film. jenis media ini pun begitu berbedanya, ada kekuatan masing-masing. buku mengajak pembacanya ke dalam aliran kata-kata tertulis dan bangunan imaji di dalam benak setiap pembaca. ia bisa dalam wujud berbeda dalam khayalan masing-masing orang. menyesuaikan dengan pengalaman, pengetahuan, dan memori seseorang. tulisan membangun dunia seluas mungkin sejauh ekspektasi sang pembaca.
sedangkan film, adalah sebuah karya visual yang bergerak, dengan kekuatan montage-montage yang mampu menjalin benang-benang kisah dan peristiwa, serta menyertakan person-person sebagai tokoh hidup yang memainkan peran layaknya wayang yang harus menjadi seseorang dalam cerita. meskipun singkat, biasanya di sekitaran durasi 2 jam, namun film dengan visualisasi seakan menyatukan interpretasi penonton dalam sebuah gambar nyata yang tidak terlalu membiarkan imajinasi berkeliaran. nah, inilah kekuatan film. durasinya singkat namun efek menenggelamkan pun tidak kalah masif nya dengan tulisan dalam buku. benak penonton dapat langsung masuk ke dalam alur cerita tanpa deskripsi tertulis. ialah bahasa gambar. ide yang diwakili oleh gambar dan visualisasinya. makanya durasi film tidak perlu terlalu panjang. salah-salah, jiwa dan nafas cerita justru hilang oleh penggambaran yang tidak jelas dan bertele-tele.
dan film ini pun semakin mengejutkan. bahasa-bahasa gambar itu begitu menakjubkan menyesakkan jiwa dan pikiran. sesak oleh apresiasi yang tiada henti ingin terungkap sepanjang pemutaran film. studio 1 yang penuh massa ini pun belum bisa menghentikan pikiran untuk terus tenggelam dalam cerita. emosi penonton terlalu rapuh untuk bertahan tidak merasakan apa-apa terhadap apa yang ada di depan mereka. tawa berkali-kali pecah, dan tidak kurang pula penonton yang harus menyeka air mata dengan lengan baju mereka. entah kalau ada yang sudah menyiapkan tisu. dan aku yakin anda juga akan (meskipun) hanya sedikit, bakal terombang-ambing dalam lautan emosi yang sengaja diciptakan bagi penonton. kembali aku harus berkata dengan jujur, aku pun berkaca-kaca. (semoga itu belum bisa disebut menangis).
tanpa tahu isi novel kedua, saya mengakui kedahsyatan film ini dan spirit yang menyertainya. mungkin jika nanti saya harus membaca novel kedua, saya akan menemukan nafas yang sama dengan film ini. semangat yang sama yang ingin dibagikan. harapan dan kejujuran yang tidak jauh berbeda. novel yang jelas-jelas akan mengubah pandangan ku atas tetralogi ini karena buku dan film sebelumnya. namun, atas nama jiwa yang penuh ledakan emosi sore tadi, aku tidak akan mendorong diri untuk membaca novel kedua, ketiga, dan keempat. aku ingin menghargai kejutan-kejutan yang akan ditawarkan oleh film-film berikutnya. seperti yang telah terjadi tadi sore, sentakan kejutan itu terasa nikmat. dan aku tak kan rela kenikmatan itu terhenti.
hari yang terputus December 22, 2009
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
daripada berdiam diri di samping jendela itu, ia beranjak dari hangatnya kamar di kala hujan. hari itu hujan berdamai dengan matahari. bergantian datang tanpa saling mengganggu. sisa hujan di jalan setapak mulai terkalahkan dan kering oleh kekuatan panas matahari. tampak sangat menggoda untuk ke luar rumah dan menikmati siraman cahaya matahari meski masih ragu-ragu, tak seteguh hari yg lalu.
dengan kehampaan yang enggan, ia mengenakan pakaian sesederhana mungkin. menutupi semua yang mesti tersembunyi. menyempatkan untuk menyelipkan payung dalam tas butut. menapakkan kaki dalam sepatu yang ingin ia sobek-sobek, hingga tampak begitu lusuh. namun, sepatu itu masih rapi. belum waktunya mungkin, ia harus sobek dengan sendirinya, bisiknya dalam hati. ia mencoba melangkah dengan ringan. meski ternyata merasa hampa itu pun tidak akan meringankan beban hati.
ia tahun akan kemana. sebuah tempat yang penuh tanda tanya. tempat yang belum pernah ia pijak, setidaknya dalam perjalanan sendiri dan tanpa apapun untuk dikendarai. ia telah merencanakan ini sejak sebulanyang lalu. berangkat dalam sebuah kehampaan menuju tempat yang begitu ia kenal dalam ketidaktahuannya akan tempat itu. tapi yang belum ia pikirkan adalah, apa yang akan ia lakukan setibanya di tempat itu?
dan mulailah ia berjalan. perjalanan yang akan terhenti di suatu tempat yang penuh tanda tanya. jawabannya hanya ada di sana, ketika ia tiba dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
menembus hujan December 20, 2009
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
hari itu hujan sedang turun….tidak deras tapi cukup lama untuk memberinya waktu bercengkerama dengan jiwa dan pikirannya…
setiap hujan turun, selalu ada yang gembira. tapi baginya, sangatlah berbeda. dia tidak ingin ada bahagia yg menyelinap jika ada hujan. dia menatap keluar jendela yang basah oleh embun air hujan yang menerpa dari luar. di saat-saat seperti ini biasanya dituliskan : “dan perlahan bulir-bulir itu jatuh membasahi pipinya” atau kalimat-kalimat lain yg artinya sama saja. MENANGIS. tapi kembali lagi, sangat berbeda baginya. ia hanya terdiam. seakan tak ada apa-apa yang menggoda matanya di luar jendela itu. kosong tatapannya. seperti pandangannya menembus segala apapun yg ada di luar jendela itu, jauh entah kemana ujungnya. dan kekosongan itu lah yg menandakan ia belum menemukan dimana tatapan itu akan menemukan akhir.
tapi dia juga tak ingin ada sedih apalagi tangis jika hujan datang..hujan dan air mata baginya adalah hal yg sudah terlalu biasa. tidak ada lagi yg istimewa dalam kedua hal itu. hanya saja hujan bisa datang seenaknya, tidak seperti air mata yang bisa saja ia sembunyikan. maka berserah lah ia pada hari itu, biarlah hujan turun lagi. selama apapun dan sederas bagaimanapun, tidak akan ia pertanyakan lagi. tinggal bagaimana air mata itu berdamai dengan hujan.
dan berbahagialah ia hari itu, hujan datang dengan rasa yang begitu datar. tidak membuatnya tersenyum dan tidak membuatnya menangis. hanya menatap sejauh mungkin menembus segala apa yang ada di luar jendela. mencari di mana akhir dari tatapan itu. dan kembalilah ia pada memori setahun ini. tentang semua rasa yang telah ia beri dalam tiap makna yang ditawarkan keadaan. tentang tiap senyum dan air mata yang telah terurai setahun ini. ia menghitung-hitung, mengira-ngira,dan menemukan bahwa banyak senyum yg mengalahkan air mata.
lantas itu pun bukan alasan untuk membuatnya bahagia di hari itu. ia tidak ingin dikelabui oleh kenangan. ia tidak akan pernah kembali di masa itu. karena itulah ia tidak ingin terbawa kenangan akan senyum yg telah lewat. tidak masalah jika hari itu dan esok ia tidak menemukan senyum yang sama. karena semua itu tidak akan pernah sama seperti pada masanya. ia tidak ingin tersenyum oleh kenangan yang semu oleh keindahan. ia ingin rasakan yg ada sekarang, saat ini.
tidak lah jadi suatu kerugian jika saat ini ia merasakan hampa, sedih, bahkan pahit. semua pernah ada dalam jejak setahun dan tahun-tahun kemarinnya. jangankan tertawa terpingkal hingga meneteskan air mata, pahitnya terjungkal dari tebing tinggi hingga ke dasar jurang terdalam pun pernah ia kecap. dan itu tidak menghancurkannya. ia tidak terbanting hingga berkeping. ada luka, ada lubang, ada sobekan yang dalam. tapi tidak sanggup menghancurkan susunan lapis per lapis yg terbentuk dalam dua dasawarsa lebih yg ada dalam dirinya.
ia kini menemukan ujung dari tatapan jauh itu. akhir dari tatapan yg menembus segala sesuatu yg ada di luar jendela itu telah nampak. luka, lubang, dan sobekan itu masih berbekas. belum kering benar. ada saja jurang yang menjatuhkannya. sangat dalam, kurang dalam, jurang-jurang itu ia yakin akan selalu ada. entah itu optimisme yg muncul dari perenungan atau kah hanya kesadaran sesaat yg nantinya akan hilang ditelan kepahitan. tapi ia tahu, ia yakin, tak pernah penting untuk menentukan harus merasakan apa jika diberi kesempatan.
tak penting jika hari esok ia akan tertawa, tersenyum, dan di hari esoknya lagi ia harus menangis sepahit mungkin. atau jika ia beruntung, ia akan seperti hari ini. hampa, tanpa bahagia ataupun sedih. hanya hampa yang bersamanya. dan sepertinya, hampa sedikit berpihak pada kesedihan. keduanya jauh lebih menguatkan dari pada kebahagiaan. baginya, dari kekuatan itu dengan sendirinya akan datang bahagia. dan kembalilah ia pada hari itu, dimana hujan belum juga reda namun ia telah menemukan ujung dari pencarian dalam tatapan yang menembus segala sesuatu yang ada di luar jendela itu….
yang tertunda…. November 15, 2009
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
ada keinginan besar ketika melihat tulisan-tulisan baru muncul dan terupdate, baik itu di blog ataupun dalam notes2 di fb….ingin menulis seperti kalian-kalian…tulisan yang ketika aku baca, membentangkan dunia yg begitu luas hanya dalam untaian kata-kata sederhana di hadapanku….atau mungkin hanya sekedar mengetuk jendela ingin tahu yang akan menggoyahkan diamku…
ingin bukan berarti perintah bagiku….ingin menurutku hanyalah sebuah gerak jiwa yang manusiawi untuk melakukan sesuatu,entah itu menjadi aksi ataupun reaksi atas pancingan-pancingan dunia real dan khayalku….jadilah keinginanku yg satu itu tersingkirkan dari daftar rutinitas membosankan ini…
tidur telat di tengah malam, kemudian bangun pada waktu yg kurang tepat,memulai hari ketika telah terik,dan mengakhirinya selarut mungkin….rutinitas membosankan itu seperti tak mau pergi, apalagi pada saat hujan berlomba denganku untuk saling menguasai hari…tak jarang aku menyerah padanya…saat ia membanjiri jalan didepan rumah dengan kubangan,aku akan kalah…setidaknya beberapa kali sejak musim kemarin..
dan hari ini….aku menang…..aku sedang menari-nari bergembira atas keramahan hujan yg tak datang beramai-ramai…seakan memberiku kesempatan untuk menuju tempat ini dan memulai kembali apa yg telah lama tertunda sekian lama dan terpinggirkan oleh rutinitas membosankan itu…sekarang aku menulis…merangkai satu demi satu kata hingga yg lain mengerti maksudku…
aku sedikit tenang…aku telah mulai lagi…dan terima kasih padaMu yg telah memberi ketenangan pada hujan untuk berdamai denganku…dan aku yakin,di lain waktu (mungkin besok,paling cepat) aku telah dapat memberikan pula kesempatan padamu untuk menari denganku…meskipun itu berarti aku akan kebasahan pulang ke rumah, karena hujan telah memberi waktu pada yg tertunda…..
kembali ke titik awal…. December 2, 2008
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
pagi mendekati siang ketika hujan mulai meredupkan mentari, kamis 27 november……
pak saleh, darma, taro, jaya…empat wajah yang kukenali pertama kali ketika tiba di kampus… mengingat masa 4 tahun lalu, hari itu aku dan darma sama2 mengenakan baju kemeja putih dan rok hitam….tapi bukan untuk menjadi mahasiswa baru lagi, tapi menuntaskan hal terakhir yang harus dilakukan sebelum keluar dari tempat itu, meninggalkan titel mahasiswa…..
teman yang sedang sedih May 27, 2008
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
kali kedua kami menjenguk ibundanya dwi, dalam sore hujan yang membasahi pintu 1 yang tersisa dari bentrokan aparat dan mahasiswa (lagi)….meski teman-temanku yang lain masih menyisakan senyum di sudut bibir, namun aku tahu ada sejumput kekhawatiran setelah sms dari dwi diterima ecy…kami segera menuju ke rumah sakit, menyusuri jalan raya yang disiramiNya oleh tetesan dan curahan….hingga di depan pintu ruangan 4 itu, kami mendapati kak ipa terduduk dengan wajah teramat sedih dan jelas kelihatan sisa-sisa tangis yang barusan….dan ketika kedatangan kami membuat tangisan itu muncul kembali, kami serasa larut dalam detik demi detik waktu yang penuh cemas dan ketegangan melewati lorong depan ruangan….tepat di tempat kami berada….tak lama dwi pun keluar dari ruangan itu menyambut kami dengan juga tangis yang dilepaskannya bersama beban yang teramat berat…
dengan sesekali terhenti oleh tangis yang tertahan, ia bercerita tentang ibundanya…tentang sakit yang diderita dan betapa dalam kepedihan yang dirasakannya lewat tutur yang terucap dan mata yang sembab…senyap ketika ia berhenti bercerita…tak ada satupun kami yang berani menyela sepi itu…kami biarkan kesedihan yang ia rasakan terbang melayang hinggap pada kami satu per satu, jika perlu ia membaginya pada kami semua hingga tak ia rasakan lagi…tapi kami melihatnya kembali, dan sedih itu masih terpasang kuat di gurat wajah dan tatapan kosong…senja yang memerah seakan memahami semua itu dan tak membiarkan sedih itu pergi…senja semakin merah…semerah sedih yang meraja di lorong depan ruangan 4…
jangan takut dwi, kami semua, bahkan mereka yang tidak terduga oleh mu, selalu berbisik penuh harap padaNYA dalam doa, agar ibundanya dwi diberikan karunia kesembuhan dan kesehatan yang baik…amin…
kami selalu ada teman, menemani mu dalam segala resah, sedih, gelisah, bahkan gembiramu…tangan kami selalu terbuka menyambut peluk bahagia mu….pundak kami selalu kuat menopang mu di kala tangis mendesak ingin keluar….semua karena satu kata…C I N T A….kami harap, kau bisa selalu merasakan kami ada…dalam wujud dan kalbu….karena cinta itu pun ada dalam wujud dan kalbu…
………………………….teman, kalian adalah saudara, kalian adalah kakak, kalian adalah adik, kalian adalah cinta, dan kalian adalah aku……………………………………..
“perawan di sarang penyamun” gila di tengah malam purnama tua May 26, 2008
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
setengah tiga tengah malam ( lebih tepatnya dini hari )….sudah masuk hari kamis, minggu terakhir bulan ke lima….mestinya, mereka yang berada di luar rumah pada jam seperti ini, merasa ekstra hati-hati dan lebih waspada daripada jam-jam sebelumnya, ketika jalan raya masih diselimuti lampu dekat mobil dan motor yang keliatan semakin mirip tertelan silau…
di sebuah sisi sudut kawasan tamalanrea permai, masih ada aktivitas dan keributan yang memecah senyap subuh yang menjelang…tertelusur berasal dari sembilan jakun pria-pria yang telah akrab dengan rentangan gelap malam hingga menjemput pagi…dari yang hampir tua, hampir melewati muda, sampai yang agak muda…semua dengan kekhasan pria yang tengah menunggu tayangan final kompetisi sepak bola dunia…karena siarannya secara langsung dari belahan dunia yang lain dan sangat jauh dari indonesia, rata-rata tayangan langsung pertandingan sejenis ini hanya ada pada jam-jam selarut mungkin…di tengah riuh rese’ teriakan gemas pada pemain yang nyaris membawa bola bersarang di gawang lawan, terselip suara yang lebih tipis dan ringan…bukan dari para pria itu,tp 2 makhluk manis bernama “perempuan”…
keduanya terlihat larut dalam suasana berisik yang tidak wajar diciptakan pagi-pagi buta seperti itu,kecuali oleh teriakan penduduk sekompleks ketika maling kedapatan…tapi untunglah bukan kedatangan maling yang menyebabkan keributan itu, tapi justru terpancing dari gambar yang ditampilkan sebuah kotak bernama televisi…o iya,kembali ke kedua perempuan “pemberani” itu…mereka ternyata juga ikut menikmati pertandingan dalam kotak kaca itu,meski minus teriakan dan loncatan,tapi terganti dengan tatapan serius tertahan oleh suara yang tersangkut di tenggorokan atau justru tenggelam dalam keributan sembilan manusia-manusia kasar yang lain…
di luar sudah mulai diterangi cahaya lembut pagi…pertandingan itu sudah selesai…waktunya segera pulang dan menebus kantuk dengan tidur hingga matahari siang tinggi…
di perjalanan pulang, seperti belum percaya, acara nonton bareng itu terkisah dengan judul seperti di atas…ah,biarlah..mereka berdua memang perawan yang tersesat di ruangan penuh pria yang bertampang penyamun tapi sering melamun…
nb :bwt dedengkot malam itu, kapok deh ikut2an nonton sampe pagi, gak mau lagi kurang tidur…
“wake up call” May 15, 2008
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.2 comments
“hayati perjalananmu……………”
dua kata yang membuatku sadar apa yang hilang dari kedalaman selama waktu menelan perjalananku hingga saat ini. terdengar dari sebuah jiwa yang penuh ketenangan dan jauh lebih dalam mencari. meski semua diperolehnya tidak dengan jalan yang mudah, ia selalu rela berbagi dan memancarkan cahayanya dengan lembut namun tetap terang, tidak menyilaukan. ia berbagi kesederhanaan dan bersedia mengajak jiwa-jiwa yang gelisah ini merasakan kedamaian yang ia rasakan. jiwa itulah yang menerangi sore ini dengan cahaya keikhlasan memberi.
hayati perjalananmu, hingga di setiap tujuan yang kau tiba, kau tidak akan pernah merasa hanya itu yang kau bisa…masih panjang jalanmu di depan…meski lama, waktu akan membawamu terbang jauh ke dalam, meski kau melihat keluar…waktu mengajarimu untuk mengenal sabar sekaligus membantumu menepati setiap detik dalam perjanjian hidup, bahwa ia terus berjalan…akan mencapai suatu titik, tapi bukan sekarang…waktu mengajakmu mengejar titik itu, agar kau tidak jauh tertinggal…pernahkah kau berpikir untuk meninggalkan semua buaian manja kenyamanan dan mulai mengikat erat tali sepatumu, lalu mulai berjalan…dengan tenagamu sendiri, selangkah demi selangkah, menyusuri pedestrian, melebur bersama tarian debu, dan tenggelam dalam fusi jiwa dan pikiran…seakan semesta sedang berbicara denganmu…
bisakah kau mulai mengenali panggilan itu ? agar aku tahu, masih ada kawan yang menemaniku berjalan berpeluh debu, dan berbincang mesra bersama semesta…hingga tiba di titik itu………
ketika ia pulang…………. May 8, 2008
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
kamarnya agak berantakan sekarang, sejak ia tidak menempatinya lagi……
rabu, 16 april, ia pulang padaNya………..memenuhi janjinya untuk kembali dari perjalanan kehidupan selama hampir 80 tahun…………….lebih dulu dari suaminya yang pernah mengecewakannya, lebih dulu dari tujuh orang anak yang memberinya 14 orang cucu………………tapi ia tidak pernah terasa sedekat ini, bahkan ketika ia masih menempati kamar dengan bau penghitam rambutnya itu……………………
jiwa yg rindu padanya selalu membantu mengembalikan kenangan saat ia bercerita, tersenyum, marah, atau hanya sekedar duduk bertopang dagu di kamar itu menonton acara kesukaannya di siang hari……………..saat ia selalu jadi yang pertama mengangkat tiap dering telepon di rumah…………selalu ingin tahu apa yang terjadi dan mengurusi semua hal yang ia tahu kemudian……………..
tak pernah lupa ia memberi sedikit bekal untuk dibawa menemani perjalanan………..ya, memberi……………..ia senang memberi………………hingga semua yang ia berikan mungkin tidak akan terbayar lunas dengan doa dan air mata yang mengantarnya, ketika ia pulang…………………………….
kami rindu padamu yang tercinta….rumah sepi tanpamu……………..