watta day …. July 20, 2010
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.2 comments
Sejak pagi,semua tampak berjalan biasa saja. Cukup lancar menurutku. Meskipun tidak ikut apel lagi, tapi masih kesampaian tanda tangan absen. Oh iya, sejak tradisi apel mulai dilaksanakan lagi, absen pun semakin ketat diberlakukan. Terlambat beberapa menit setelah apel, akan ada yang kebingungan mencari absen, padahal pulpen sudah siap di tangan. Hal ini pernah sekali terjadi padaku. Absen pegawai tetap dan harian dibawa masuk ke ruangan big boss untuk diperiksa langsung dan manual olehnya. Menjaga agar tidak ada kecurangan, seperti kasus nitip tanda tangan. Persis seperti masa kuliah, ketika kehadiran jadi lebih penting ketimbang yang lainnya.
Hari senin ini pun jadi hari yang sangat santai. Tidak ada pekerjaan sama sekali. Tidak ada perintah membuat eksposisi atau bahkan mengkopi berkas sekalipun. Beginilah yang dikatakan orang tentang menjadi pegawai instansi pemerintah. Kalau lagi ada kerjaan, bisa sampai menyita waktu makan siang dan telat pulang. Tapi kalau lagi santai, seharian bisa Cuma duduk-duduk saja, keluyuran dalam kantor sana sini. Tapi hari ini bajuku agak apek, jadi kurang pede deh. Untungnya sedikit tertutupi dengan wangi parfum. Leganya. Terima kasih pada siapapun yang menemukan cara pembuatan parfum.
Duduk seharian di ruanganku, adalah kebanyakan aktifitas ku selama di kantor tadi. Selain itu, sempat ke koridor belakang untuk bercengkerama, kemudian kembali lagi ke ruangan menikmati jatah roti dan teh. Ibu-ibu kasubag di ruanganku pun tidak terlalu sibuk, meskipun masih ada juga yang membereskan beberapa berkas. Alhasil, terciptalah ruang bercerita dan beradu kisah, dengan aku sebagai additional player di dalamnya. Sejam berlalu, masih lanjut ceritanya. Dua jam, tanpa terasa telah berlalu. Memasuki jam ke tiga, mataku mulai berat. Resiko kurang kerjaan ini sudah sangat aku pahami. Aku tidak banyak melawan. Setelah mencari beberapa posisi yang wuenak, akhirnya aku pulas juga dan melewatkan sisa cerita selanjutnya.
Hampir setengah jam kepalaku rebah di atas meja, akhirnya durasi itu mencukupkan istirahatku. Beberapa macam judul cerita pendek pun kembali aku ikuti. Hujan menjadi salah satu alasan kuat, mengapa ibu-ibu ini, termasuk aku, belum juga beranjak pulang, meski sebenarnya pada hari cerah hal itu sudah sedari tadi kami lakukan. Jadilah cerita kembali disambung. Awan pun mulai sedikit memunculkan matahari yang mengurangi rintik hujan. Satu per satu kami beranjak. Kembali janjian dengan Tati di depan kantor pariwisata, setelah tadi singgah ke suatu tempat menjemput pesanan kue ku, dan menunaikan Dzuhur di mesjid raya.
Bekal ngemil siang sudah kuhabiskan dalam tempo singkat di kantor tadi, setelah ruangan sepi. Kami awalnya akan menumpang mikrolet seperti biasa, namun godaan mobil-mobil panter yang telah beberapa kali melintas cukup membuat kami ingin mencoba sekali-sekali menumpang mobil yang berute jauh itu. Salah satu mobil singgah di depan kami. Untungnya tujuan mobil itu memang ke soppeng. Kami terpaksa duduk paling belakang, karena di depan sudah penuh meski tak sesak. Yah, tak apalah, yang penting tetap nyaman dan tiba lebih cepat, pikirku.
Namun, apa mau dinyana, keadaan mulai memburuk. Ada bau tak sedap dalam mobil ini. Entah dari arah mana. Dan itu lumayan mengganggu, apalagi tanpa tahu dari mana sumbernya. Ketidaktahuan ini menyiksaku. Setidaknya kalau sumbernya keliatan kan bisa dihindari dengan cara apa pun yang mungkin. Beberapa kilometer perjalanan, baunya tidak kunjung hilang. Beruntung, aku bawa tisu sebagai penolong untuk hidungku. Aku lalu mulai menikmati meski sedikit waspada. Semoga sumber bau itu tidak dekat dari tempat duduk kami.
Kue yang aku beli kami bagi-bagikan pada pak supir dan penumpang. Satu orang dapat satu, cukup adil agar masih ada yang bisa ku bawa pulang untuk orang rumah. Lagipula secara teknis aku tidak membelinya. Pesanan kue itu aku titip pada salah seorang sepupu, ketika aku ambil dan memberinya uang, dia tidak ingin menerimanya. Meski sudah sedikit memaksa, dia tetap tidak menerima uangku. Alhamdulillah, artinya ini rejeki. Suasana mulai sedikit melegakan, ketika akhirnya suara itu memecah ketenangan. Anak kecil di kursi depan memuntahkan isi perutnya. Huwaaaaaaa, kami kaget dan jijik.
Ingin rasanya turun seketika itu juga. Bukan apa-apa, anak kecil ini memuntahkan banyak dari isi perutnya dan memenuhi bak truk mainannya. Parahnya lagi, kami melihat semua itu!!! Ibu si anak ini tak lama kemudian kebingungan, tidak tau nama tempat yang ia tuju. Mobil kami pun terpaksa putar balik setengah kilometer setelah mengidentifikasi tempat tujuan si ibu setelah mendengar ciri-ciri tempat itu. Untungnya lagi, ia cepat menemukan rumah yang ia kenali. Itupun setelah meminjam hp pak supir untuk memasukkan kartu sim nya gara-gara hpnya mati total karena lowbat. Ampun deh!!! Meski kursi depan sekarang lowong, kami enggan pindah. Masih ada sisa muntahan si anak kecil di bawah kursi. No, thanks. Kami pun melaju menuju soppeng dengan sisa bau misterius dan bayangan buruk tentang peristiwa-peristiwa mengejutkan tadi. God, could it be worse than all of these?? Watta perfect day!!!
here i am !!! July 20, 2010
Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.add a comment
Kembali tulisan itu tidak bisa aku selesaikan. Tulisan yang akhirnya harus bernasib sama dengan beberapa tulisanku sebelumnya. Menyelesaikan kalimat terakhir pun aku tidak bisa. Padahal bulan-bulan ku telah berjalan kering tanpa tulisan selama beberapa lama. Aku lupa kapan terakhir menulis sesuatu di blog.
Aku memang bukan penulis handal. Itupun bukan kegiatan rutinku, apalagi jadi cita-cita. Aku pun berusaha keras untuk membuat tulisan sebagus yang ku mampu ketika magang pada majalah internal di salah satu korporasi. Teman-teman magangku justru bisa lebih cepat menyelesaikan tulisan mereka dengan hasil yang mengagumkan. Sedangkan aku, hanya bisa memandang tidak puas setiap kali selesai membaca tulisan yang sudah berulang kali aku perbaiki.
Tanggung jawab menulis berita utama pun sepertinya tidak lebih baik bagiku. Waktu tidak berpihak padaku. Kesempatanku itu jadi yang terakhir kalinya sebelum aku menyerahkan sisa hidupku bekerja pada instansi pemerintah. Aku diterima melalui satu macam tes tertulis yang berdurasi hanya lebih dari dua jam. Cara yang aneh menurutku untuk mengukur kemampuan seseorang. Apalagi untuk merekrut orang yang akan mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat dan negeri (tapi bukan pada pemerintah).
Dan inilah aku sekarang. Seorang perempuan yang hari-harinya diwarnai baju seragam, emblem, laporan, perjalanan antar kabupaten, teh kental, roti coklat, box makan siang, tanda tangan absen, apel pagi dan siang, online lewat hp, gossip kantor, pejabat baik dan tidak terlalu baik, tunggu angkot langsung atau mesti nyambung, janjian di kantor pariwisata, masjid raya, kaos kaki hitam, telepon dan sms rutin, rindu orang lain, music player, kehabisan pulsa, Wimbledon shop, duduk-duduk saja, bengong, ke kantin, nebeng boncengan, dan semua detail-detail lainnya dalam hidupku.
Semua berputar dalam dimensi waktu yang kadang-kadang cepat, namun sering pula terasa lambat. Kerja adalah hal baru bagiku. Magang tidak terhitung karena pertama, kami tidak datang ke kantor setiap hari, atau setiap beberapa waktu yang rutin. Kami datang ketika ada yang penting, seperti pembagian tugas dan pra liputan. Atau ketika ingin mengumpulkan bahan dan melakukan wawancara. Karena dalam kedua hal itu, kami kadang sangat butuh koordinasi dari kak Ome yang memanggil kami untuk magang di tempat itu.
Kedua, kak ome orangnya asik. Sangat professional, tapi dalam cara yang santai. Bagi pekerja muda sepertinya, itu kombinasi yang sangat pas. Jarang ada yang memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, ketepatan timing, dan cara tepat nge-mix kesemuanya , dalam satu paket. Dan itu membuat kami anak magang, lebih merasa ringan untuk melakukan liputan dan menulis berita. Kami kagum padanya, dan tidak ingin mengecewakannya. Ia menetapkan standar yang tinggi untuk menyediakan ruang fleksibel setelahnya. Baik dari segi waktu maupun isi tulisan.
Jadi kami bisa sedikit lega ketika mengumpulkan tulisan. Kak ome selalu memberikan saran dan perbaikan yang ternyata penting namun terlewatkan. Dan itu sering terjadi padaku. Untunglah bukan orang lain yang jadi redpel. Kak ome adalah otak dalam keberhasilan berjalannya majalah itu hingga kini. Meskipun saat ini, tinggal dua personil yang mengerjakannya (emma dan darma), namun aku tidak khawatir akan nasib majalah. Karena merekalah yang tepat untuk kalimat ini : “save the best for the last”.
Dan ketiga, kedua alasan itu membuat magang yang sebenarnya adalah bekerja, jadi jauh lebih fun dan penuh semangat. Walaupun aku baru bergabung dua tahun yang lalu, jauh setelah pendahulu-pendahuluku memulai tonggak awal perjalanan majalah, namun aku sangat menikmati masa beberapa tahun itu. Tidak ada beban moril dan kekhawatiran seperti ketika orang menyebut diri mereka bekerja. itu hanya bisa aku dapatkan karena sosok kak Ome yang menjadi inti perjalanan itu.
Malam sedang hujan dan makin larut ketika aku menulis ini. Sebelumnya, aku sempat menonton beberapa klip video konser band kesukaanku, Coldplay. Mama sudah nongol sekali dipintu kamar dan bertanya, “kenapa belum tidur?”. Besok hari senin, dan kemungkinan besar ada upacara. Huft, padahal bulan-bulan sebelumnya kantor masih santai. Beberapa minggu ini, lebih ketat disiplinnya. Gara-gara ada surat edaran bupati untuk mengadakan apel tiap pagi dan upacara pada hari senin.
Tapi, sekarang aku bukan mahasiswa lagi. Yang bisa bebas bangun siang dan bolos di kuliah-kuliah pagi, tidak mengumpulkan tugas,atau melewatkan ujian final karena ada dosen yang berbaik hati memberi susulan. Meskipun setiap pengalaman baru ada sisi yang memberatkan untuk meninggalkan hal-hal lama dan kenangannya, namun ada pula sisi yang memberikan semangat dan keseruan untuk bertemu orang-orang baru dan melakukan hal-hal baru, serta menciptakan kenangannya sendiri.
Selamat datang esok hari.. selamat tidur…
