jump to navigation

selamat jalan Om Pendeta November 28, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

Kala itu waktu shalat magrib telah usai, dan kumandang takbir memenuhi langit malam kota kecil ini, ketika kudengar suara di ujung telepon mengabarkan duka di sana.

Saat ini aku telah berdomisili kembali di kota kelahiranku selama lebih dari enam bulan, setelah bertahun-tahun mendiami ibukota propinsi untuk menuntut ilmu dan menulis kisah hidupku di sana. Meskipun awalnya itu berat kulakukan, karena banyak orang yang berarti buatku ada di sana. Namun, aku harus pulang, menemani orangtuaku dan menjalankan tanggung jawab sebagai abdi negara di kabupaten tetangga.

Di kota Makassar orangtuaku memiliki sebuah rumah yang dibeli dari hasil tabungan bertahun-tahun. Itu memang salah satu niatan mereka, untuk memiliki sebuah rumah meski mereka saat ini bertempat tinggal di Watansoppeng di rumah kakek-nenek ku. Kata mereka, itu untuk aku dan adikku. Karena kuliahku telah selesai dan Tuhan memilihkan Kota Sengkang sebagai “sumber nafkah” ku, maka kota besar itu kutinggalkan. Sebentar lagi adikku akan meninggalkan seragam putih abu-abu nya dan menjajal dunia mahasiswa. Mungkin dia yang akan meneruskan perjuanganku di kota itu, atau mungkin ia punya arah yang lain.

Rumah yang kumaksud ini berada di salah satu kompleks perumahan yang baru dibangun, mungkin sekitar 4 tahun yang lalu. Berdampingan dengan perumahan lama yang tepat berada di tengah lokasi perumahan itu. Perumahan baru itu juga belum dijejali ratusan rumah seperti kompleks-kompleks lama. Sepertinya memang baru ada sekitar puluhan rumah di dalam sana. Rumah ku salah satunya. Tapi sayangnya rumah ini baru kutempati setelah aku lulus kuliah, tepat nya akhir 2008, jadi aku tidak sempat merasakan menempati rumah itu sebagai seorang mahasiswi.

Pertama kali melihat lokasi perumahan itu masih dua atau tiga rumah yang berdiri. Rumahku belum utuh selesai begitu pula rumah lainnya. Tapi tepat di depan rumahku, sudah ada satu yang telah berdiri dan bahkan ditempati penghuninya. Tetangga kiri kanan rumah itu belum pula rampung. Masih sangat sepi kala itu, aku sempat berpikir bagaimana bila nanti aku tinggal di sini, kalau tetangga ku hanya ada satu? Tapi setelah menempati rumah ku itu, ternyata banyak rumah di sekitar yang telah selesai dan sudah ada beberapa keluarga yang jadi tetanggaku.

Tetangga di depan rumahku itu ternyata sebuah keluarga kecil. Seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak perempuan mereka. Setelah berkenalan, masing-masing mereka cukup kami panggil dengan sebutan Om, Tante, dan Ellen serta adiknya (lupa namanya siapa). Ternyata lagi, si Om satu kampung denganku, dia juga berasal dari Watansoppeng. Sedangkan Tante aslinya dari Sangir. Mereka semua ramah dan penuh senyum ketika bertemu dengan kami. Tutur kata kedua orang tua ini, khususnya Om, sangat sopan dan lembut. Kemudian, aku pun tahu kalau Om ini adalah pensiunan tentara yang juga seorang pendeta. Keluarga ini pun sempat memelihara seekor anjing dengan indera yang cukup sensitif hingga ia bisa menggonggong sepanjang waktu.

Tante sering membawakan kue atau roti buatannya untuk kami di rumah. Meski awalnya ada yang ragu untuk mencicipi, namun segera kami tepis, dan dengan niat bahwa penghargaan untuk pemberian seseorang itu sangat penting. Sering pula ketika bertemu di depan rumah, kami sekedar bercakap-cakap seadanya tentang keadaan saat itu, atau tentang keluarga mereka dan keluarga ku. Ketika Ellen menikah, kami sekeluarga (bapak dan mama khusus datang dari Watansoppeng untuk menghadirinya) serta beberapa tetangga datang ke hotel tempat acara itu berlangsung. Mengingat semua kebaikan dan keramahan keluarga ini, tidak ada alasan untuk tidak datang di acara tersebut.

Dan pada tanggal 16 November lalu, tepat ketika takbir menjelang Idul Adha berkumandang, sebuah kabar menyedihkan disampaikan sepupuku via telepon. Om Pendeta berpulang kemarin malam.  Entah karena sakit atau penyebab lain, yang pasti tidak akan ada lagi senyum dan sapaan ramah dari om pendeta. Tiba-tiba saja terlintas semua kejadian dalam memori ku yang mengingatkan pada Om Pendeta.

Bagaimana seorang yang berbeda keyakinan, bahkan seorang pemimpin dalam kaumnya begitu menghargai orang lain. Tidak pernah tampak keraguan di mata seorang pendeta ini untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Aku bisa langsung menebak, kalo Om Pendeta ini juga seorang Bapak penyayang yang penyabar bagi keluarganya, dengan tutur kata yang lembut dan menunjukkan kebijaksanaan.

Selamat jalan Om Pendeta, semoga semua kebaikan mu bisa dicontoh oleh banyak manusia di muka bumi ini. Di mana perbedaan buatmu bukan lah sebuah tembok pemisah, namun menjadi sebuah ruang untuk membuka hati bagi begitu banyak kebaikan untuk dibagi……

Bukan keturunan India November 11, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
1 comment so far

 

Saat menulis ini, sebenarnya kondisi ku masih seperti hari-hari kemarin. Kelelahan dan ngantuk berat. Tapi selalu saja sistem di tubuh ku melakukan sebuah kerja otomatis untuk menanggapinya, yaitu dengan melawan. hampir setiap saat kantuk datang, Hampir pula setiap saat itu aku menahan diri untuk tidak menurutinya. sebutlah aku keras kepala, bahkan pada kebutuhan ku sendiri pun aku begitu keras menahan diri.

Aku tahu ini sebuah gaya hidup yang tidak sehat. Bangun di pagi hari pukul 5.30, tanpa jadwal tidur siang, dan malamnya baru terlelap lagi di atas jam 11. Belum lagi perjalanan dengan dibonceng motor pulang pergi tempat kerja ku di kabupaten wajo dan pulang kembali ke kabupaten soppeng, dengan jarak total lebih dari 40 km. (terimakasih buat tati yang selalu setia menjemput dan mengantarkanku sampai di depan rumah. dia yang memboncengku dengan motor matic-nya, dengan perawakan badan yang tidak lebih besar dari badanku!!)

Setiap orang yang baru mengetahui kenyataan bahwa setiap hari aku harus menempuh perjalanan lintas kabupaten untuk menuju ke tempat kerja, rata-rata mengeluarkan ekspresi yang hampir sama. Mereka terkejut dan merasa itu hal yang hampir mustahil untuk dilakukan setiap hari oleh seorang perempuan. Mereka iba, khawatir, dan bahkan terkadang menjadi dramatis meskipun sebenarnya bukan maksud mereka seperti itu.

Kebanyakan orang di kantor telah mengetahui hal ini. saran mereka hanya satu. Cari tempat kost di sana. Tapi itu masih jauh dari pikiranku. Bukan hanya karena mengurusi kakek semata wayang ku, tapi karena menurutku masih ada pilihan lain untuk menjalani rutinitas ini. Tetap tinggal di kota asal ku bersama keluarga tentu jauh lebih menyenangkan dan menenangkan, dibanding harus tinggal di tempat baru dan mengorbankan itu semua.

Bukannya aku belum pernah tinggal di tempat yang asing dan belum aku kenal. 7 tahun lalu aku memulai hidup sebagai mahasiswa di kota makassar. Suasana yang ramai dan teman-teman yang menyenangkan tidaklah membuatku merasa asing lagi. Lain halnya dengan tempat kerjaku, yang tentu tidak semua orang bisa menyenangkan diajak lucu-lucuan dan bercanda ngalor ngidul. Lingkungan kerja adalah lingkungan yang serius, meski beberapa di antaranya tetap berusaha membuat suasana kantor tidak sekaku kesannya.

Sejak memulai status pegawai pemerintah 6 bulan yang lalu, sampai saat ini ada yang aneh tiap aku bercermin. Bukan karena kulitku yang makin hitam dan berjerawat akibat kebingungan sel untuk menyesuaikan antara dua kota dengan cuaca yang cukup berbeda tiap harinya. Tapi karena daerah kedua mataku yang dihiasi oleh lingkaran hitam yang semakin jelas dari hari ke hari. Iklan kosmetik di tv menyebutnya sebagai sindrom “mata panda”. Analogi yang tepat, karena mata panda memang memiliki lingkaran hitam lebat di sekelilingnya. Tapi ini bukan karena aku memiliki darah keturunan India yang kebanyakan memang punya lingkaran hitam di daerah sekitar mata. Hidung pun sama sekali tidak mirip dengan hidung orang-orang yang membintangi film-film bollywood. Hanya warna kulit gelap ku yang hampir serupa.


Respon sistem dalam tubuh ku yang cenderung melawan rasa lelah dan kantuk, bukannya menuruti mereka untuk segera beristirahat dan tidur lelap di atas kasur empukku, menjadi tersangka utama lingkaran hitam yang muncul semakin jelas itu. Kali inipun mataku terasa menggantung beban yang berat, tapi tetap kulawan dengan sekuat tenaga. Malam masih muda, belum waktunya untuk tidur.Tapi tetap selalu ada janji untuk belajar tidur lebih awal esok malam, meski janji itu lebih sering tak kutepati demi alasan-alasan yang tidak terlalu jelas.

pelukan itu dari tanganku sendiri October 15, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

saat ini hari sedang senja. Matahari tanggal 14 oktober sebentar lagi akan menyerah pada malam yang pelan-pelan merayap. Gelap sudah ada di langit timur sedari tadi, sedang berusaha menyusul ke langit barat dan akhirnya menggelapkan langit belahan bumi yang kupijak. Seperti kata sebuah lagu bugis, “labuni ro esso e, turunni uddani e”, bagi ku senja memang mampu menggoreskan emosi lebih dalam seperti jingga yang tergores di antara awan. Bukan hanya kerinduan, tapi senja mampu membuka hati lebih luas untuk lebih banyak perasaan dan emosi di dalam jiwa. Ini membawaku pada tanya yang sebenarnya sudah lama bersarang dan menggelapkan sebagian sisi pikiran ku. Apakah ada orang yang betul-betul menyayangi ku dengan seluruh jiwanya ? Kusadari, sungguh ini sebuah pertanyaan yang egois. Jika ini coba kau tanyakan pada seseorang yang kau kenal, contohnya temanmu, kebanyakan dari mereka akan berusaha meyakinkan mu bahwa mereka sayang padamu. Bahwa itu hanya pikiran negatif mu saja yang sama sekali tidak benar. Tentu itu sangat tidak salah dilakukan oleh seorang teman. Bahkan mereka bukanlah teman sejati jika melakukan sebaliknya. Tapi, pertanyaan yang akan muncul setelahnya adalah, jika mereka memang menyayangiku, mengapa aku merasakan hal yang lain? Bukankah rasa sayang dan rindu itu dua hal yang hampir menyerupai ? Yang seperti kata sebagian orang, jika kamu merindukan seseorang maka akan lebih besar kemungkinannya orang itu juga sedang merindukanmu, atau setidaknya saat itu sedang ada kamu dalam pikirannya walaupun itu cuma sekedar sepintas. Malam semakin menua. Masih ada aku di sini, hanya bersama pikiranku. Melihat jauh ke belakang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan siapa saja aku telah menjalani seperempat abad usia. Adakah hal berarti yang telah aku lakukan setidaknya untuk diriku sendiri. Dan jutaan pertanyaan lain yang lebih banyak gagal untuk kutemukan jawaban yang pas. Aku dan orang-orang lain, ribuah wajah yang pernah singgah, hanya lewat, ataupun masih ada dalam catatan perjalanan hidupku. Mereka bukan tokoh fiksi, mereka nyata. Tapi tetap saja aku merasa sendiri. Dulu aku sering meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan banyak hal yang menghuni pikiranku. Itu banyak menolongku untuk sedikit mengatasi sepi. Tapi ketika aku coba membawa diri ke tengah keramaian orang-orang, aku justru tersesat. Petunjuk mulai kabur dan samar, karena aku sulit mendengarkan pikiran ku sendiri. Orang-orang ini terlalu banyak, terlalu ramai. Tapi pelan-pelan aku mulai sedikit mengabaikan hal-hal dalam pikiranku yang sedikit-sedikit mulai ditenggelamkan keramaian dunia di luar diriku. Itu membuatku mulai mengenal orang-orang lain. Aku pun mulai meyakini, ini akan menjadi lebih baik. Tapi dunia berputar terlalu cepat dengan banyak orang di dalamnya. Aku pun tidak merasakan setiap kenangan dapat kurekam dengan baik. Akhirnya sebuah titik membawaku kembali menjauh dari keramaian itu. Aku sedikit lega karena aku kembali bisa mendengarkan pikiranku. Banyak hal yang harus aku pahami. Ini waktu yang tepat untuk bertanya dan melihat kembali siapa sesungguhnya yang betul-betul sayang padaku. Karena semakin cepat waktu berputar bersama dunia, semakin sulit kita membedakan kenyataan dan yang semu. Semua itu membutakan. Dan ketika kudengarkan kembali pikiranku, ia menyuruhku untuk memeluk diriku sendiri, sebelum jawaban dari pertanyaan itu kutemukan…

Bercerita pada Purnama yang Membuntuti October 2, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
1 comment so far

suatu ketika, aku tiba-tiba menyadari ada keindahan dalam malam itu. Malam di mana aku sedang berada di sadel belakang sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang bapak tua dari arah Cabbenge menuju Watansoppeng. Terpaksa juga harus menumpang ojek meskipun sudah lewat magrib, karena mobil angkutan dari Sengkang tadi trayeknya hanya sampai di Cabbenge, ibu kota kecamatan sebelum Watansoppeng. Jarak yang harus aku tempuh mungkin sekitar 10 km untuk tiba. Sepanjang jalan harus melewati areal persawahan di kanan kiri jalan raya. Dimulailah serangan serangga-serangga kecil berwarna putih itu.

Untungnya aku dalam posisi dibonceng, hingga serangga yang beterbangan berebut menuju lampu motor itu hampir tidak ada yang mengenaiku. Tapi aku tahu betul cara kerjanya. Mereka pada puncak berbahaya bagi manusia ketika dalam keadaan terbang. Saat itulah sayap-sayap mereka menebarkan elemen-elemen mikroskopik yang bisa menimbulkan rasa gatal pada permukaan kulit manusia yang ada dalam radius beberapa meter. Ada yang beruntung kebal terhadap mereka, adapula yang kurang beruntung. Aku termasuk yang kedua, harus rela menari-nari alias menggaruk sana-sini jika ada beberapa saja di sekitarku. Dan malam ini, aku dikerumuni oleh kawanan mereka yang bergantian melintasi selama perjalanan.

Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain duduk menunggu ojek ini tiba di depan rumahku. Rasa gatal itu belum menyerang sekarang, mungkin menunggu tidak terlalu banyak angin. Masih butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba. Aku menoleh ke belakang, dengan takjub mendapati bulan purnama seperti membuntuti. Purnama itu agak blur, karena seakan terhaluskan oleh awan-awan tipis dari pandanganku. Ia bulat penuh tanpa cacat. Mungkin ini malam keduanya, karena biasanya pada malam kedua purnama datang ia mencapai bentukan paling sempurnanya, sebelum malam ketiga yang anti-klimaks.

Aku tiba-tiba teringat pada namaku. Rahmah Were Uleng Taufik. Aku memiliki satu kata yang similar dengan nama bulan. Uleng, itu bahasa bugis untuk bulan. Setauku, aku memang lahir pada malam hari, tapi entah sedang purnama atau tidak. Yang jelas arti namaku itu adalah rahmat Tuhan yang diberikan bulan. Purnama itu sedang memancarkan pesonanya, tidak terlalu tajam namun halus penuh kekuatan. Aku pun ingin bercermin pada bulan. Ingin bisa memahami apa yang sedang disampaikannya, atau hanya sekedar memberi tahu pada bulan ingin apa aku ini.

Menatap purnama selama beberapa saat membawaku pada lorong waktu hingga ke tujuh tahun yang lalu. Saat itu aku di tahun pertama kuliah di jurusan teknologi pertanian. Pendahulu-pendahuluku tidak bohong, kalau ospek di jurusan-jurusan eksakta tidak pernah ramah pada pendatang baru. Itu bisa kubuktikan dengan minggu-minggu berat di awal kedatangan kami anak-anak baru. Belum masuk masa ospek, kami sudah disuguhi hantaman-hantaman ala senior, baik itu lewat caci maki, pertemuan lengan dengan sandal gunung, sampai kaki salah satunya mendarat di pahaku. Jangan tanya kenapa saat itu pertahananku runtuh, aku menangis dengan harga diri yang terinjak seperti pahaku.

Tapi tidak selamanya hal berat itu adalah penderitaan. Selepas ospek, memang semua tidak langsung berjalan mudah. Penyesuaian adalah masalah utama bagi pendatang baru. Dan kami mulai disiapkan untuk sesuatu yang besar, dan itu bukan tawuran seperti yang jadi trend di masa itu dan sebelumnya. Sebulan penuh kami semua digembleng untuk melakukan hal yang biasanya jarang aku lakukan. Olah raga…. Tidak main-main ternyata para senior itu. Kami harus berlari mengelilingi kampus unhas tiap hari. Kalau hari ini jadwalnya sore,besok artinya siap-siap tiba di kampus jam 5 subuh. Bagian lari subuh yang sangat berat. Beruntung salah satu teman sma yang satu jurusan denganku berbaik hati mengantar jemput, sore ataupun subuh. (terimakasih Ricky)

Tapi itulah yang aku nikmati. Memaksa diri untuk melawan semua kemalasan yang bersarang dan mengendap selama ini, setidaknya untuk sebulan kedepan. Track lari setelah dua minggu mulai makin jauh. Kali ini, bukan hanya berlari di dalam kampus unhas, tapi juga berlari mulai dari dalam hingga ke luar kampus. Setelah sebulan, hasil evaluasi dari program itu keluar. Aku ditempatkan di kelompok jalur pos 7. Oh iya, sudahkah aku sebutkan kami akan ke mana? Kami akan mengadakan perjalanan menuju Ramma’, lembah Gunung Bawakaraeng. Bagian terbaiknya adalah itu pertama kalinya perjalananku yang betul-betul bersentuhan langsung dengan alam. Api semangat telah tersulutkan semakin besar.

Dua hari dua malam perjalanan yang kami harus tempuh untuk tiba di tempat itu. Semakin jauh, semakin curam saja kemiringan lereng dan pendakian kami. Hari pertama lancar. Pos 1 mempertemukan kami dengan hamparan perkebunan kol dan sayuran lainnya yang siap dijual keluar Malino. Bersamaan dengan pertemuan kami dengan hutan pinus pertama yang tentu saja diselimuti kabut dan embun yang mendukung hawa makin dingin. Selama perjalanan kami sekelompok kadang bercerita, kadang pula hanya berjalan dalam diam. Sambil sesekali memakan gula merah atau minuman stamina untuk menambah laju. Hari kedua pun makin seru. Memasak dengan parafin atau kompor kupu-kupu sampai hampir membakar habis tenda kelompok kami, menuruni bukit untuk tiba disungai, menunda mandi selama 3 hari karena kayaknya nda mungkin di atas sana, ataupun mencari celah waktu untuk mengambil nafas, menjadi detail-detail yang tak terlupakan.

Hari kedua kami sedikit lagi tiba di bawah sana, lembah yang kami tuju. Tapi melihat ke bawah, hanya awan rendah yang bisa kami saksikan menutupi lembah itu. Sesekali senior yang telah tiba lebih dulu memainkan lampu senter hingga menembus awan di atas mereka dan memberi kode pada kami yang akan turun. Kulirik kakiku, yang ternyata hanya melewati tanah selebar lebih dari 50 cm dan selebihnya di sebelah kiri kami adalah lereng yang tegak lurus dengan lembah itu. Cukup mengerikan jika membayangkan sedikit saja salah melangkah, entah akan ada dimana aku sekarang.

Ramma’, itu nama lembah yang kami datangi. Daratan yang tidak terlalu rata menghampar luas dipagari pemandangan gunung Bawakaraeng dan bukit-bukitnya. Memotong di tengahnya sebuah sungai kecil dengan lebar sekitar lebih dari 1 meter saja, yang kutebak hulunya dari mata air di atas gunung sana. Saat kusentuh alirannya, begitu bening dan dingin. Kadang untuk memperoleh sebotol minuman dingin, kami tinggal menaruh botol berisi minuman selama beberapa menit di dalam aliran air sungai itu. Seperti berada dalam dimensi lain dunia ini, tempat itu begitu mendamaikan. Hijau lembah yang terselimuti rumput berpadu dengan kokoh lereng yang menjulang menopang daratan di atasnya, bak lukisan pemandangan dari tangan seorang profesional. Dan itu memang benar, Dia lah sang pelukis keindahan itu.

Tersadar aku, masih di atas ojek yang melaju dengan kecepatan rata-rata. Masih dengan serangga-serangga putih itu, namun Watansoppeng sudah dekat. Langsung kuucap janji itu pada hatiku. Tahun depan akan ada sebuah petualangan lagi, yang harus kulakukan sebelum memasuki petualangan lain yang baru dalam hidupku. Petualangan bersama orang-orang yang aku kasihi. Aku akan kembali ke tempat itu, bersama dengan mereka yang masih melakukannya hingga saat ini. Mereka pasti paham alasan yang sama dengan yang membawa mereka selalu ingin kembali ke sana. Dunia lain yang membebaskan, dunia lain yang menghapus batasan manusia dan alam, dunia lain yang membuat mereka ingin selalu bersujud, dan dunia lain yang selalu akan mereka simpan dalam hati dan kenangan mereka. Begitupun aku, jika hati lelah dengan kemunafikan dan ego yang lahir setiap hari dalam rutinitas, aku akan kembali ke sana. Tahun depan akan kunantikan purnama yang membuntuti ku ketika aku menoleh ke belakang, dan akan kuperlihatkan padanya langsung dunia lain itu agar kami bisa saling bercerita tentang keindahan.

watta day …. July 20, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
2 comments

Sejak pagi,semua tampak berjalan biasa saja. Cukup lancar menurutku. Meskipun tidak ikut apel lagi, tapi masih kesampaian tanda tangan absen. Oh iya, sejak tradisi apel mulai dilaksanakan lagi, absen pun semakin ketat diberlakukan. Terlambat beberapa menit setelah apel, akan ada yang kebingungan mencari absen, padahal pulpen sudah siap di tangan. Hal ini pernah sekali terjadi padaku. Absen pegawai tetap dan harian dibawa masuk ke ruangan big boss untuk diperiksa langsung dan manual olehnya. Menjaga agar tidak ada kecurangan, seperti kasus nitip tanda tangan. Persis seperti masa kuliah, ketika kehadiran jadi lebih penting ketimbang yang lainnya.

Hari senin ini pun jadi hari yang sangat santai. Tidak ada pekerjaan sama sekali. Tidak ada perintah membuat eksposisi atau bahkan mengkopi berkas sekalipun. Beginilah yang dikatakan orang tentang menjadi pegawai instansi pemerintah. Kalau lagi ada kerjaan, bisa sampai menyita waktu makan siang dan telat pulang. Tapi kalau lagi santai, seharian bisa Cuma duduk-duduk saja, keluyuran dalam kantor sana sini. Tapi hari ini bajuku agak apek, jadi kurang pede deh. Untungnya sedikit tertutupi dengan wangi parfum. Leganya. Terima kasih pada siapapun yang menemukan cara pembuatan parfum.

Duduk seharian di ruanganku, adalah kebanyakan aktifitas ku selama di kantor tadi. Selain itu, sempat ke koridor belakang untuk bercengkerama, kemudian kembali lagi ke ruangan menikmati jatah roti dan teh. Ibu-ibu kasubag di ruanganku pun tidak terlalu sibuk, meskipun masih ada juga yang membereskan beberapa berkas. Alhasil, terciptalah ruang bercerita dan beradu kisah, dengan aku sebagai additional player di dalamnya. Sejam berlalu, masih lanjut ceritanya. Dua jam, tanpa terasa telah berlalu. Memasuki  jam ke tiga, mataku mulai berat. Resiko kurang kerjaan ini sudah sangat aku pahami. Aku tidak banyak melawan. Setelah mencari beberapa posisi yang wuenak, akhirnya aku pulas juga dan melewatkan sisa cerita selanjutnya.

Hampir setengah jam kepalaku rebah di atas meja, akhirnya durasi itu mencukupkan istirahatku. Beberapa macam judul cerita pendek pun kembali aku ikuti. Hujan menjadi salah satu alasan kuat, mengapa ibu-ibu ini, termasuk aku, belum juga beranjak pulang, meski sebenarnya pada hari cerah hal itu sudah sedari tadi kami lakukan. Jadilah cerita kembali disambung.  Awan pun mulai sedikit memunculkan matahari yang mengurangi rintik hujan. Satu per satu kami beranjak. Kembali janjian dengan Tati di depan kantor pariwisata, setelah tadi singgah ke suatu tempat menjemput pesanan kue ku, dan menunaikan Dzuhur di mesjid raya.

Bekal ngemil siang sudah kuhabiskan dalam tempo singkat di kantor tadi, setelah ruangan sepi. Kami awalnya akan menumpang mikrolet seperti biasa, namun godaan mobil-mobil panter yang telah beberapa kali melintas cukup membuat kami ingin mencoba sekali-sekali menumpang mobil yang berute jauh itu. Salah satu mobil singgah di depan kami. Untungnya tujuan mobil itu memang ke soppeng. Kami terpaksa duduk paling belakang, karena di depan sudah penuh meski tak sesak. Yah, tak apalah, yang penting tetap nyaman dan tiba lebih cepat, pikirku.

Namun, apa mau dinyana, keadaan mulai memburuk. Ada bau tak sedap dalam mobil ini. Entah dari arah mana. Dan itu lumayan mengganggu, apalagi tanpa tahu dari mana sumbernya. Ketidaktahuan ini menyiksaku. Setidaknya kalau sumbernya keliatan kan bisa dihindari dengan cara apa pun yang mungkin. Beberapa kilometer perjalanan, baunya tidak kunjung hilang. Beruntung, aku bawa tisu sebagai penolong untuk hidungku. Aku lalu mulai menikmati meski sedikit waspada. Semoga sumber bau itu tidak dekat dari tempat duduk kami.

Kue yang aku beli kami bagi-bagikan pada pak supir dan penumpang. Satu orang dapat satu, cukup adil agar masih ada yang bisa ku bawa pulang untuk orang rumah. Lagipula secara teknis aku tidak membelinya. Pesanan kue itu aku titip pada salah seorang sepupu, ketika aku ambil dan memberinya uang, dia tidak ingin menerimanya. Meski sudah sedikit memaksa, dia tetap tidak menerima uangku. Alhamdulillah, artinya ini rejeki. Suasana mulai sedikit melegakan, ketika akhirnya suara itu memecah ketenangan. Anak kecil di kursi depan memuntahkan isi perutnya. Huwaaaaaaa, kami kaget dan jijik.

Ingin rasanya turun seketika itu juga. Bukan apa-apa, anak kecil ini memuntahkan banyak dari isi perutnya dan memenuhi bak truk mainannya. Parahnya lagi, kami melihat semua itu!!! Ibu si anak ini tak lama kemudian kebingungan, tidak tau nama tempat yang ia tuju. Mobil kami pun terpaksa putar balik setengah kilometer setelah mengidentifikasi tempat tujuan si ibu setelah mendengar ciri-ciri tempat itu. Untungnya lagi, ia cepat menemukan rumah yang ia kenali. Itupun setelah meminjam hp pak supir untuk memasukkan kartu sim nya gara-gara hpnya mati total karena lowbat. Ampun deh!!! Meski kursi depan sekarang lowong, kami enggan pindah. Masih ada sisa muntahan si anak kecil di bawah kursi. No, thanks. Kami pun melaju menuju soppeng dengan sisa bau misterius dan bayangan buruk tentang peristiwa-peristiwa mengejutkan tadi. God, could it be worse than all of these??  Watta perfect day!!!

here i am !!! July 20, 2010

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

Kembali tulisan itu tidak bisa aku selesaikan. Tulisan yang akhirnya harus bernasib sama dengan beberapa tulisanku sebelumnya. Menyelesaikan kalimat terakhir pun aku tidak bisa. Padahal bulan-bulan ku telah berjalan kering tanpa tulisan selama beberapa lama. Aku lupa kapan terakhir menulis sesuatu di blog.

Aku memang bukan penulis handal. Itupun bukan kegiatan rutinku, apalagi jadi cita-cita. Aku pun berusaha keras untuk membuat tulisan sebagus yang ku mampu ketika magang pada majalah internal di salah satu korporasi. Teman-teman magangku justru bisa lebih cepat menyelesaikan tulisan mereka dengan hasil yang mengagumkan. Sedangkan aku, hanya bisa memandang tidak puas setiap kali selesai membaca tulisan yang sudah berulang kali aku perbaiki.

Tanggung jawab menulis berita utama pun sepertinya tidak lebih baik bagiku. Waktu tidak berpihak padaku. Kesempatanku itu jadi yang terakhir kalinya sebelum aku menyerahkan sisa hidupku bekerja pada instansi pemerintah. Aku diterima melalui satu macam tes tertulis yang berdurasi hanya lebih dari dua jam. Cara yang aneh menurutku untuk mengukur kemampuan seseorang. Apalagi untuk merekrut orang yang akan mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat dan negeri (tapi bukan pada pemerintah).

Dan inilah aku sekarang. Seorang perempuan yang hari-harinya diwarnai baju seragam, emblem, laporan,  perjalanan antar kabupaten, teh kental, roti coklat, box makan siang, tanda tangan absen, apel pagi dan siang, online lewat hp, gossip kantor, pejabat baik dan tidak terlalu baik, tunggu angkot langsung atau mesti nyambung, janjian di kantor pariwisata, masjid raya, kaos kaki hitam, telepon dan sms rutin, rindu orang lain, music player, kehabisan pulsa, Wimbledon shop, duduk-duduk saja, bengong, ke kantin, nebeng boncengan, dan semua detail-detail lainnya dalam hidupku.

Semua berputar dalam dimensi waktu yang kadang-kadang cepat, namun sering pula terasa lambat. Kerja adalah hal baru bagiku. Magang tidak terhitung karena pertama, kami tidak datang ke kantor setiap hari, atau setiap beberapa waktu yang rutin. Kami datang ketika ada yang penting, seperti pembagian tugas dan pra liputan. Atau ketika ingin mengumpulkan bahan dan melakukan wawancara. Karena dalam kedua hal itu, kami kadang sangat butuh koordinasi dari kak Ome yang memanggil kami untuk magang di tempat itu.

Kedua, kak ome orangnya asik. Sangat professional, tapi dalam cara yang santai. Bagi pekerja muda sepertinya, itu kombinasi yang sangat pas. Jarang ada yang memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, ketepatan timing, dan cara tepat nge-mix kesemuanya , dalam satu paket. Dan itu membuat kami anak magang, lebih merasa ringan untuk melakukan liputan dan menulis berita. Kami kagum padanya, dan tidak ingin mengecewakannya. Ia menetapkan standar yang tinggi untuk menyediakan ruang fleksibel setelahnya. Baik dari segi waktu maupun isi tulisan.

Jadi kami bisa sedikit lega ketika mengumpulkan tulisan. Kak ome selalu memberikan saran  dan perbaikan yang ternyata penting namun terlewatkan. Dan itu sering terjadi padaku. Untunglah bukan orang lain yang jadi redpel. Kak ome adalah otak dalam keberhasilan berjalannya majalah itu hingga kini. Meskipun saat ini, tinggal dua personil yang mengerjakannya (emma dan darma), namun aku tidak khawatir akan nasib majalah. Karena merekalah yang tepat untuk kalimat ini : “save the best for the last”.

Dan ketiga, kedua alasan itu membuat magang yang sebenarnya adalah bekerja, jadi jauh lebih fun dan penuh semangat. Walaupun aku baru bergabung dua tahun yang lalu, jauh setelah pendahulu-pendahuluku memulai tonggak awal perjalanan majalah, namun aku sangat menikmati masa beberapa tahun itu. Tidak ada beban moril dan kekhawatiran seperti ketika orang menyebut diri mereka bekerja. itu hanya bisa aku dapatkan karena sosok kak Ome yang menjadi inti perjalanan itu.

Malam sedang hujan dan makin larut ketika aku menulis ini. Sebelumnya, aku sempat menonton beberapa klip video konser band kesukaanku, Coldplay. Mama sudah nongol sekali dipintu kamar dan bertanya, “kenapa belum tidur?”. Besok hari senin, dan kemungkinan besar ada upacara. Huft, padahal bulan-bulan sebelumnya kantor masih santai. Beberapa minggu ini, lebih ketat disiplinnya. Gara-gara ada surat edaran bupati untuk mengadakan apel tiap pagi dan upacara pada hari senin.

Tapi, sekarang aku bukan mahasiswa lagi. Yang bisa bebas bangun siang dan bolos di kuliah-kuliah pagi, tidak mengumpulkan tugas,atau melewatkan ujian final  karena ada dosen yang berbaik hati memberi susulan. Meskipun setiap pengalaman baru ada sisi yang memberatkan untuk meninggalkan hal-hal lama dan kenangannya, namun ada pula sisi yang memberikan semangat dan keseruan untuk bertemu orang-orang baru dan melakukan hal-hal baru, serta menciptakan kenangannya sendiri.

Selamat datang esok hari.. selamat tidur…

iri December 27, 2009

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

dan bahagialah mereka yang mati muda…………..

Tuhan, aku ingin jadi anak laki-laki (1) December 23, 2009

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

Hal menyenangkan menjadi makhluk bernama manusia adalah memiliki kesempatan untuk menangkap berbagai pengalaman visual dan mengelolanya dalam alam rasa maupun pikiran. membaca buku dan menonton film adalah contoh wahananya. begitu luas ide dan kreatifitas manusia hingga tak akan pernah cukup berjuta buku dan film untuk mengekspresikannya. hari inipun, aku telah jatuh sebagai korban yang tenggelam dalam lautan ide anak manusia berwujud FILM.

Film yang kumaksud ini sebenarnya sebuah sequel, atau lanjutan dari cerita yang ada di sebuah film sebelumnya. ini adalah wujud lain dari novel karya anak negeri yang diadaptasi dalam produksi film. seperti kebanyakan, film dengan jenis ini selalu punya sensasi bagi yang pernah membaca ataupun yang belum pernah sama sekali. aku termasuk golongan pertama, namun tidak seniat kawan-kawan yang lain yang menamatkan cerita ini hingga judul novel ke-empat. ya, cerita ini adalah cerita dalam karya novel tetralogi. penuh petualangan alam pikiran.

aku hanya pernah membaca novel pertama. itupun tanpa kesan yang teramat mendalam, seperti layaknya sekian banyak orang yang pernah menyatakan pendapatnya setelah membaca buku itu. menurutku, banyak pengulangan deskripsi yang tidak perlu.  dan beberapa bagian terkesan bertele-tele. yah, sisi egoku menilai seperti itu. memang jika dilihat secara keseluruhan, ini adalah cerita yang wajar dibukukan. berasal dari kisah nyata sang penulis dalam kehidupan kanak-kanak hingga dewasa yang penuh kisah menarik, senang maupun sedih. dan masih beberapa penulis yang menghasilkan karya-karya penuh kejujuran seperti itu.

sastra Indonesia sedang berada dalam era baru. bahasa yang dituturkan bukan lagi bergaya roman-roman ala siti nurbaya yang penuh dengan konotasi. jujur dan apa adanya, justru saat ini gaya penulisan inilah yang lebih menarik hati pembaca, setidaknya sebagian besar. terbukti dengan penjualan novel tetralogi tersebut yang mencapai angka-angka fantastis, bahkan dalam sejarah sastra komersial Indonesia. pembaca tidak terlalu ingin terbuai dalam alunan kata-kata konotatif dan bernada melankolis ataupun manja. karena itulah novel seperti ini yang sekarang banyak dicari.

jujur saja, alam sadar dan bawah sadar ku tidak terlalu setuju dengan pendapat pasar. aku pun kehilangan selera untuk membaca novel kedua,ketiga, dan keempat. dan lewatlah masa-masa itu, hingga waktunya untuk pemutaran film kedua dari judul kedua dalam tetralogi ini. mengembalikan selera untuk mencoba menikmati sesuatu yang kurang mengenakkan di awal, ternyata tidak mudah. akupun tidak begitu semangat mengejar antrian tiket yang berjubel selama berminggu-minggu ini demi menonton sequel itu diputar di bioskop. padahal gaungnya sudah mulai terasa sejak beberapa hari sebelum pemutaran perdana di kota ini. dan semakin besar sejak dilemparkan ke hadapan penonton.

makanya hari ini, ketika ada teman yang mengajak, aku merasa tidak begitu perlu untuk mengikutkan diri dan kehilangan beberapa puluh ribu untuk film itu. mengingat pengalamanku di film maupun novel pertama kurang mampu membekaskan “sesuatu” di benakku. tapi karena tidak ada alasan lain untuk menolak (kesekian kalinya), kepasrahan akhirnya membawaku duduk dalam salah satu bangku di studio 1. (aku masih tetap merasa beruntung tidak kebagian tugas mengantri). rol diputar, layar menyala, semua mata sedang tertuju ke depan.

pelan-pelan, memoriku kembali memutar ulang untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dan penggalan cerita yang ada hubungannya dengan sequel ini.tidak begitu sulit untuk menangkap alur kisah kedua ini. anak-anak itu memang hebat, akuku dalam hati. untaian kisah mereka pun terpaparkan dengan apik dalam setiap jalinan frame di layar. karakter orang-orang ini semakin kuat di mataku. mereka sangat bangga dengan peran mereka hingga sulit untuk mengatakan jika mereka tidak maksimal. kembali kehebatan sang aktor/aktris serta sutradara dan mereka yang berada di belakang layar, harus aku akui. rantai cerita tersambung satu sama lain dengan begitu natural. kejujuran adalah fondasi cerita ini,seperti yang aku bilang sebelumnya.

sedikit banyak, novel memberi nafas yang dalam bagi film ini. namanya saja cerita adaptasi, ya pasti film ini dibuat berdasarkan cerita dalam novel. betul sekali, tidak ada yang salah dalam pernyataan itu. namun, pembuat novel dan film adalah pribadi yang berbeda. adaptasi bukanlah refleksi, bukan memindahkan langsung setiap sisi dan sudut sebuah novel ke dalam film. jenis media ini pun begitu berbedanya, ada kekuatan masing-masing. buku mengajak pembacanya ke dalam aliran kata-kata tertulis dan bangunan imaji di dalam benak setiap pembaca. ia bisa dalam wujud berbeda dalam khayalan masing-masing orang. menyesuaikan dengan pengalaman, pengetahuan, dan memori seseorang. tulisan membangun dunia seluas mungkin sejauh ekspektasi sang pembaca.

sedangkan film, adalah sebuah karya visual yang bergerak, dengan kekuatan montage-montage yang mampu menjalin benang-benang kisah dan peristiwa, serta menyertakan person-person sebagai tokoh hidup yang memainkan peran layaknya wayang yang harus menjadi seseorang dalam cerita. meskipun singkat, biasanya di sekitaran durasi 2 jam, namun film dengan visualisasi seakan menyatukan interpretasi penonton dalam sebuah gambar nyata yang tidak terlalu membiarkan imajinasi berkeliaran. nah, inilah kekuatan film. durasinya singkat namun efek menenggelamkan pun tidak kalah masif nya dengan tulisan dalam buku. benak penonton dapat langsung masuk ke dalam alur cerita tanpa deskripsi tertulis. ialah bahasa gambar. ide yang diwakili oleh gambar dan visualisasinya. makanya durasi film tidak perlu terlalu panjang. salah-salah, jiwa dan nafas cerita justru hilang oleh penggambaran yang tidak jelas dan bertele-tele.

dan film ini pun semakin mengejutkan. bahasa-bahasa gambar itu begitu menakjubkan menyesakkan jiwa dan pikiran. sesak oleh apresiasi yang tiada henti ingin terungkap sepanjang pemutaran film. studio 1 yang penuh massa ini pun belum bisa menghentikan pikiran untuk terus tenggelam dalam cerita. emosi penonton terlalu rapuh untuk bertahan tidak merasakan apa-apa terhadap apa yang ada di depan mereka. tawa berkali-kali pecah, dan tidak kurang pula penonton yang harus menyeka air mata dengan lengan baju mereka. entah kalau ada yang sudah menyiapkan tisu. dan aku yakin anda juga akan (meskipun) hanya sedikit, bakal terombang-ambing dalam lautan emosi yang sengaja diciptakan bagi penonton. kembali aku harus berkata dengan jujur, aku pun berkaca-kaca. (semoga itu belum bisa disebut menangis).

tanpa tahu isi novel kedua, saya mengakui kedahsyatan film ini dan spirit yang menyertainya. mungkin jika nanti saya harus membaca novel kedua, saya akan menemukan nafas yang sama dengan film ini. semangat yang sama yang ingin dibagikan. harapan dan kejujuran yang tidak jauh berbeda. novel yang jelas-jelas akan mengubah pandangan ku atas tetralogi ini karena buku dan film sebelumnya. namun, atas nama jiwa yang penuh ledakan emosi sore tadi, aku tidak akan mendorong diri untuk membaca novel kedua, ketiga, dan keempat. aku ingin menghargai kejutan-kejutan yang akan ditawarkan oleh film-film berikutnya. seperti yang telah terjadi tadi sore, sentakan kejutan itu terasa nikmat. dan aku tak kan rela kenikmatan itu terhenti.

hari yang terputus December 22, 2009

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

daripada berdiam diri di samping jendela itu, ia beranjak dari hangatnya kamar di kala hujan.  hari itu hujan berdamai dengan matahari. bergantian datang tanpa saling mengganggu. sisa hujan di jalan setapak mulai terkalahkan dan kering oleh kekuatan panas matahari. tampak sangat menggoda untuk ke luar rumah dan menikmati siraman cahaya matahari meski masih ragu-ragu, tak seteguh hari yg lalu.

dengan kehampaan yang enggan, ia mengenakan pakaian sesederhana mungkin. menutupi semua yang mesti tersembunyi. menyempatkan untuk menyelipkan payung dalam tas butut. menapakkan kaki dalam sepatu yang ingin ia sobek-sobek, hingga tampak begitu lusuh. namun, sepatu itu masih rapi. belum waktunya mungkin, ia harus sobek dengan sendirinya, bisiknya dalam hati. ia mencoba melangkah dengan ringan. meski ternyata merasa hampa itu pun tidak akan meringankan beban hati.

ia tahun akan kemana. sebuah tempat yang penuh tanda tanya. tempat yang belum pernah ia pijak, setidaknya dalam perjalanan sendiri dan tanpa apapun untuk dikendarai. ia telah merencanakan ini sejak sebulanyang lalu. berangkat dalam sebuah kehampaan menuju tempat yang begitu ia kenal dalam ketidaktahuannya akan tempat itu. tapi yang belum ia pikirkan adalah, apa yang akan ia lakukan setibanya di tempat itu?

dan mulailah ia berjalan. perjalanan yang akan terhenti di suatu tempat yang penuh tanda tanya. jawabannya hanya ada di sana, ketika ia tiba dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

menembus hujan December 20, 2009

Posted by lunaphilosophie in Uncategorized.
add a comment

hari itu hujan sedang turun….tidak deras tapi cukup lama untuk memberinya waktu bercengkerama dengan jiwa dan pikirannya…

setiap hujan turun, selalu ada yang gembira. tapi baginya, sangatlah berbeda. dia tidak ingin ada bahagia yg menyelinap jika ada hujan. dia menatap keluar jendela yang basah oleh embun air hujan yang menerpa dari luar. di saat-saat seperti ini biasanya dituliskan : “dan perlahan bulir-bulir itu jatuh membasahi pipinya” atau kalimat-kalimat lain yg artinya sama saja. MENANGIS. tapi kembali lagi, sangat berbeda baginya. ia hanya terdiam. seakan tak ada apa-apa yang menggoda matanya di luar jendela itu. kosong tatapannya. seperti pandangannya menembus segala apapun yg ada di luar jendela itu, jauh entah kemana ujungnya. dan kekosongan itu lah yg menandakan ia belum menemukan dimana tatapan itu akan menemukan akhir.

tapi dia juga tak ingin ada sedih apalagi tangis jika hujan datang..hujan dan air mata baginya adalah hal yg sudah terlalu biasa. tidak ada lagi yg istimewa dalam kedua hal itu. hanya saja hujan bisa datang seenaknya, tidak seperti air mata yang bisa saja ia sembunyikan. maka berserah lah ia pada hari itu, biarlah hujan turun lagi. selama apapun dan sederas bagaimanapun, tidak akan ia pertanyakan lagi. tinggal bagaimana air mata itu berdamai dengan hujan.

dan berbahagialah ia hari itu, hujan datang dengan rasa yang begitu datar. tidak membuatnya tersenyum dan tidak membuatnya menangis. hanya menatap sejauh mungkin menembus segala apa yang ada di luar jendela. mencari di mana akhir dari tatapan itu. dan kembalilah ia pada memori setahun ini. tentang semua rasa yang telah ia beri dalam tiap makna yang ditawarkan keadaan. tentang tiap senyum dan air mata yang telah terurai setahun ini. ia menghitung-hitung, mengira-ngira,dan menemukan bahwa banyak senyum yg mengalahkan air mata.

lantas itu pun bukan alasan untuk membuatnya bahagia di hari itu. ia tidak ingin dikelabui oleh kenangan. ia tidak akan pernah kembali di masa itu.  karena itulah ia tidak ingin terbawa kenangan akan senyum yg telah lewat. tidak masalah jika hari itu dan esok ia tidak menemukan senyum yang sama. karena semua itu tidak akan pernah sama seperti pada masanya. ia tidak ingin tersenyum oleh kenangan yang semu oleh keindahan. ia ingin rasakan yg ada sekarang, saat ini.

tidak lah jadi suatu kerugian jika saat ini ia merasakan hampa, sedih, bahkan pahit. semua pernah ada dalam jejak setahun dan tahun-tahun kemarinnya. jangankan tertawa terpingkal hingga meneteskan air mata, pahitnya terjungkal dari tebing tinggi hingga ke dasar jurang terdalam pun pernah ia kecap. dan itu tidak menghancurkannya. ia tidak terbanting hingga berkeping. ada luka, ada lubang, ada sobekan yang dalam. tapi tidak sanggup menghancurkan susunan lapis per lapis yg terbentuk dalam dua dasawarsa lebih yg ada dalam dirinya.

ia kini menemukan ujung dari tatapan jauh itu. akhir dari tatapan yg menembus segala sesuatu yg ada di luar jendela itu telah nampak. luka, lubang, dan sobekan itu masih berbekas. belum kering benar. ada saja jurang yang menjatuhkannya. sangat dalam, kurang dalam, jurang-jurang itu ia yakin akan selalu ada. entah itu optimisme yg muncul dari perenungan atau kah hanya kesadaran sesaat yg nantinya akan hilang ditelan kepahitan. tapi ia tahu, ia yakin, tak pernah penting untuk menentukan harus merasakan apa jika diberi kesempatan.

tak penting jika hari esok ia akan tertawa, tersenyum, dan di hari esoknya lagi ia harus menangis sepahit mungkin. atau jika ia beruntung, ia akan seperti hari ini. hampa, tanpa bahagia ataupun sedih. hanya hampa yang bersamanya. dan sepertinya, hampa sedikit berpihak pada kesedihan. keduanya jauh lebih menguatkan dari pada kebahagiaan. baginya, dari kekuatan itu dengan sendirinya akan datang bahagia. dan kembalilah ia pada hari itu, dimana hujan belum juga reda namun ia telah menemukan ujung dari pencarian dalam tatapan yang menembus segala sesuatu yang ada di luar jendela itu….